Rabu, 10 Desember 2008

Mencicipi Secuil Aceh dalam Semangkok Mie

Sekali lagi, ini ada tulisan tentang masakan di tempatku
dikutip dari : http://www.temanmakan.com/ulasmakan.html,1,189



Tempat yang saya kunjungi pertama kali untuk wisata kuliner di rumah sakit dan sekitarnya adalah RS TNI AL Mintohardjo. Saya menyebutnya RS Kembar. Kenapa? Karena gedungnya ada dalam satu area dengan LADOKGI TNI AL, tempat saya merawat gigi selama 7 tahun! RS TNI Mintohardjo menghadap jalan Bendungan Hilir Raya, sementara LADOKGI TNI AL tepat berada di samping apartemen Park Royal.

Nah, tepat di seberang RS TNI AL Mintohardjo ada sederetan tempat makan yang menyediakan berbagai makanan. Saya sempat bingung memutuskan antara menyeberang atau menyisir ke sebelah kiri RS yang juga dipenuhi tempat-tempat serupa. Namun, mata ini terlanjur terpikat oleh spanduk kuning besar di seberang jalan bertuliskan Mie Aceh. Sepertinya oke juga kalau dicoba!

Jadilah kaki ini melangkah ke sana. Di bagian depan rumah makan berdiri sebuah lemari kaca berisi mie kuning khas Aceh dengan ‘aksesoris’ lainnya. Terlihat juga sebuah wajan menghitam dan kompor kecil di bagian belakang. Ketika masuk, di dalamnya terdapat beberapa meja dan kursi sederhana. Suara dari sebuah program televisi ikut menyambut kedatangan saya. Saya langsung memesan seporsi Mie Aceh. Saya tahu itu yang saya inginkan. Tapi ada satu hal yang tidak saya ketahui saat itu.

Ternyata saya makan di Seulawah. Betapa tidak kaget, inilah rumah makan yang pasti disebut-sebut ketika orang berbincang tentang masakan khas Aceh. Saya menyadarinya ketika memperhatikan guntingan artikel dari majalah dan koran yang dipajang di dinding. Sedang asyik-asyiknya membaca, tiba-tiba terdengar suara nyaring menyelusup ke dalam. Suara desingan wajan dan sutil beradu, menandai pesanan saya tengah disiapkan. Seketika wangi harum rempah-rempah menggelitik bulu-bulu hidung saya. Mmmuah…wanginya!

Sepengetahuan saya, Seulawah merupakan salah satu restoran Aceh yang terkenal di Jakarta. Awalnya, rumah makan ini ada di daerah selatan Jakarta. Setelah pindah tempat beberapa kali, akhirnya memilih menetap di kawasan Bendungan Hilir. Pelanggannya bukan hanya orang Jakarta saja, tetapi juga warga Aceh yang tinggal di ibukota ini. Bagi mereka, makan di sini serasa melepas kerinduan akan kampung halaman untuk sejenak.

Cukup lama juga untuk satu porsi mie sampai ke meja saya. Mungkin karena racikan bumbunya yang cukup beragam. Bagi sebagian orang aroma rempah-rempah Mie Aceh mungkin akan terasa menusuk hidung. Kuahnya jingga dan pekat, tidak terlalu kental juga tidak terlalu encer. Mie-nya sendiri berwarna lebih terang dan sedikit lebih tebal dibanding mie kebanyakan. Selain bertabur kacang dan bawang goreng, mie ini juga ditemani sepiring emping, timun, jeruk nipis, dan acar.

Tetapi, khayalan menikmati kuah yang lezat sempat terganggu tatkala suapan pertama menyapa lidah. Panas yang masih mengendap ternyata belum hilang meskipun saya sudah meniupnya berkali-kali. Setelah menunggu beberapa saat lagi barulah terasa hangatnya racikan rempah yang menyatu di dalamnya. Rasa gurih, pahit, dan pedas bercampur menimbulkan sensasi tersendiri di indera pengecap saya. Di saat itulah saya mengerti kenapa bangsa Belanda betah menjajah kita hingga 350 tahun.

Selain Mie Aceh, Seulawah menyediakan menu otentik lainnya seperti Nasi Briyani, Martabak Aceh, Roti Jala, Roti Cane, Asam Ke’eung, Ikan Hiu, Ikan Kayu, Kuah Pli’u, dan masih banyak lagi. Pastinya dengan rempah-rempah asli yang di’impor’ langsung dari negri Serambi Mekah ini, cita rasa yang dihasilkan pun benar-benar orisinil. Untuk minuman silakan coba Es Timun, Timphan/Pulud atau Kopi Aceh yang kondang itu.

Jika Anda tinggal atau bekerja di kawasan Bendungan Hilir, rasanya harus mencoba masakan di sini, termasuk Mie Acehnya yang cuma Rp 8.000 seporsi. Saya rasa harga itu cukup murah untuk semangkuk mie yang begitu kaya nuansa rasa

Tidak ada komentar: