Tampilkan postingan dengan label kuah pliu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuah pliu. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2013

"One of the best restaurants in Jakarta " Mira Lesmana

Alhamdulillah Menjelang siang itu (10:27 PM - 14 Mar 12 ) kami kedatangan tamu istimewa
Mbak Mira Lesmana & Riri Reza
Berbagai jenis makanan hidangan kami dicobanya
kedua tokoh Top dalam perfilman indonesia ini terlihat sangat  puas makan yang kami hidangkan
mbak mira memotret dengan HP dan dan menshare dengan  komentar  dalam witter dan instagram
 "One of the best restaurants in Jakarta "

https://twitter.com/MirLes/status/180163204410908672

http://instagram.com/p/ILme2wGnPb/



Terima kasih Mbak Mira Lesmana & Riri Reza atas kunjungan dan sharingnya

RM Aceh Seulawah

Sabtu, 27 Maret 2010

Ketagihan Sambal Ganja dan Ikan Kayu


Masakan RM Aceh Seulawah kembali diliput Detikfood.com


dikutip dari
http://food.detik.com/read/2009/05/25/141357/1136718/288/ketagihan-sambal-ganja-dan-ikan-kayu

Senin, 25/05/2009 14:13 WIB
Ketagihan Sambal Ganja dan Ikan Kayu
Odilia Winneke - detikFood

Racikan bumbu dari serambi Mekkah ini memang bikin ketagihan. Sambalnya asam segar gurih, ikan kayu pun diolah dengan lumuran bumbu cabai yang royal. Daun temurui yang berlimpah pun membuat ayam tangkap jadi makin wangi aromanya. Hmm..sedap nian diadu dengan suapan nasi putih!

Satu dua kali saya mencicipi masakan Aceh. Terus terang yang teringat kuat adalah mi Aceh yang berbumbu mlekoh dengan topping kepiting yang royal. Maklum saja sajian yang satu ini sudah banyak dijajakan di warung-warung makan. Porsinya besar, rasanya pedas gurih dan membuat wajah bercucuran keringat karena nikmatnya.

Siang itu saya justru ingin mampir ke Rumah Makan Seulawah di kawasan Bendungan Hilir, sekedar ingin makan nikmat gaya Aceh. Rumah makan ini sederhana, menempati bangunan ruko yang di sisi kiri dan kanannya dipadati penjaja makanan lainnya.

Karena hari Jum’at otomatis yang terbayang adalah Nasi Biryani yang wangi andalan rumah makan ini. Namun, saya harus kecewa, karena begitu saya memesan, mangkuk terakhir nasi biryani sudah disuguhkan ke pembeli. Tetapi saya tetap menghibur diri dengan aneka lauk yang ditata di lemari kaca yang ada di bagian depan rumah makan. Lamat-lamat tercium aroma wangi martabak yang sedang dimasak di bagian luar.

Setelah bingung memilih karena banyak yang ingin saya ciipi, ya kari kambingnya yang sedap, roti jala, roti cane dan rujak Aceh. Akhirnya pilihan saya jatuh ke menu favorit yang pernah saya cicipi dulu. Kuah Pli’u, Ikan Kayu, ayam tangkap plus sambal ganja plus nasi putih.

Seperti rumah makan Minang, lauk pun segera disajikan dalam mangkuk dan piring. Kuah Pli’u disajikan melimpah dalam piring cekung. Kuahnya berwarna kehijauan dengan beragam jenis daun. Ada daun pakis, potongan labu siam dan saat saya cicipi kuah santannya terasa gurih enak dengan semburat rasa asam. Ini mungkin karena asam sunti yang dimasukkan dalam bumbu. Gulai khas Aceh ini memang ternama karena rasa gurih dan pedas rempahnya yang kuat.

Ikan kayu merupakan ikan tongkol yang dikeringkan hingga keras. Mirip cakalang fufunya orang Manado. Warna cokelat kemerahan melumuri potongan kecil daging ikan. Rasanya pedas, gurih dengan rasa keras renyah daging ikan kayu. Makin enak saat diaduk dengan nasi putih hangat. Lama kelamaan rasanya pedas juga!

Saat menikmati ikan kayu ini, sayapun mencoba memadukan dengan Sambal Ganja. Hmm..sambal yang berupa potongan udang rebus dengan bawang merah, cabai hijau dan belimbing sayur ini memang rasanya gurih, asam dan segar! Mungkin karena sering bikin orang ketagihan disebut sambal ganja. Padahal nama sebenarnya Sambal Asam Udang. Karena saya juga tak melacak aroma kaskas, bumbu yang berupa biji ganja (poppy seed) yang kadang dicampurkan dalam rempah Aceh..

Pesanan yang terakhir disajikan adalah Ayam Tangkap yang disebut juga ayam tsunami. Aroma wangi daun kari langsung menusuk hidung. Sajian ini sebenarnya sederhana. Ayam kampung yang dipotong kecil (berikut tulang), dibumbui dan digoreng. Yang istimewa justru paduannya yang berupa daun jeruk, daun pandan,s erai dan daun kari atau temurui yang berlimpah yang digoreng kering. Karena itu aroma ayam goreng yang tampilannya mirip sampah ini sangat wangi!. Daging ayam kampungnya juga gurih dan empuk.

Ayam tangkap yang gurih ini pun saya tuntaskan dengan sambal hijau yang berupa sambal cabai hijau keriting dengan campuran bawang dan air jeruk sehingga rasanya asam gurih pedas! Saat beradu dengan ayam yang gurih rasanya makin enak saja!

Kalau tak kepedasan saya pasti akan memesan rujak Aceh yang memakai rumbia, yang mirip salak dengan rasa asam yang unik. Hampir titik ait liur saya membayangkan campuran buah dengan bumbu rujak yang sedap ini. Sayang perut saya sudah mulai sesak sehingga rasa pedas gurih di mulut saya bilas dengan timphan.

Timphan ini memang jajan pasar Aceh favorit saya. Tampilannya mirip kue pisang, dibungkus daun pisang muda, berbentuk panjang sekitar 10 cm dan lebar sekitar 4 cm dan dikukus. Adonannya terbuat dari tepung ketan dan pisang halus sedangkan isinya kelapa muda parut yang diaduk dengan gula dan telur. Timphan rumah makan ini memang terkenal enak. Lembut mulur dengan isian yang tidak terlalu manis dan yang saya suka, selalu memakai daun pisang muda yang cantik dan wangi!

Untuk mencicipi kuliner Aceh yang sedap, harga lauknya tidak terlalu mahal dibandingkan dengan kelezatannya. Ayam Tangkap seporsi dihargai Rp. 30.000,00, Kuah Pli’u dan ikan kayu Rp, 15.000,00, sambal udang Rp. 7.000,00 dan timphan Rp. 2.000,00 sebuah.

Karena saya belum berhasil makan nasi briyani dan rujak Aceh, rasanya di suatu hari Jumat saya harus kembali lagi ke rumah makan ini. Kembali mengulangi kenikmatan kuliner tanah rencong!

Rumah Makan 'Seulawah'
Jl. Bendungan Hilir Raya No. 8
(depan RS AL Mintihardjo), Jakarta Pusat
Telpon: 021- 57086660
Jam buka: 11.00-21.00


(dev/Odi) Odilia Winneke
© 2009 detikcom

Selasa, 25 November 2008

Rumah Makan Aceh Seulawah di berbagai media masa, elektronik dan buku

Sahabatku Sekalian

Sudah beberapa kali sebenarnya Aku mendapat liputan dari beberapa media komunikasi, mulai dari Koran Republika, Koran Tempo, Jakarta Post, Kompas, Majalah Femina, Majalah Dwibahasa Jakarta, Beberapa Tabloid Wanita dan Kuliner dll.

Dengan maraknya acara wisata dan info kuliner , beberapa media elektronik inipun telah meliput tempatku, diantaranya adalah yang berikut ini :

Ajeeeb…. Gule Ikan Hiunya OK Banget…… Begitulah celoteh FAUZI BAADILAH di RM Aceh Seulawah pada Acara NIKMATNYA DUNIA di SCTV Februari 2008 yang lalu

Woow enaaaak, bumbunya berasa banget . begitulah ungkapan TIKE – (Exravaganza) di Rumah Makan Aceh Seulawah dalam acara CIPIKA CIPIKI di Trans TV, Agustus 2007 lalu

“ Mie nya Mangat thaat” begitulah FANY FADHILAH (Ucup Bajaj Bajuri) yang mencoba dalam bahasa Aceh mengungkapkan rasa nikmatnya mie aceh di RM Aceh Seulawah dalam acara Bango Citarasa Nusantara di INDOSIAR Juli, 2008

Oh ya , Aku dimuat juga dalam buku MAKANSUTRA Food Guide in Jakarta., Lumayan dapet penghargaan bintang .. eh mangkok dua ( dari skala 1-3) untuk rasa sih dapet exelent, kekurangan adalah tempatnya.. hehehe ini kelemahan bosku sebagai pengusaha Kecil...

Mudah-mudahan bosku cepet dapet investor untuk merealisasikan niatnya membesarkan Aku .. Amin

Pada kesempatan ini, Aku ucapkan terima kasih kepada teman-teman wartawan berbagai media tersebut atas liputannya

Mudah-mudahan Aku dan seluruh staf Kami bisa mempertahankan kenikmatan rasanya

Hormat Saya



RM Aceh Seulawah
(berikut saya muat cuplikan RM Aceh Seulawah dalam liputan Buku MakanSutra)